NEW’S

Karimunjawa, Asyik Banget Gitu Loh!
Time Traveller Sat, 25 Jun 2005 09:40:00 WIB

Karimunjawa barangkali tak akan pernah habis untuk terus-menerus diceritakan dan dituliskan. Sebanyak 27 gugusan pulau yang ada hampir selalu mengundang kepenasaran, dan menggugah gairah kepetualangan. Yang pasti eksotisme gugus kepulauan itu, berikut kemurnian habitat bawah lautnya selalu memunculkan pesona. Jangankan bagi yang belum pernah ke sana, bagi yang sudah pun ia tetap memikat sebagai tempat kunjungan. Ia tak akan pernah membosankan untuk terus dikunjungi.

Pesan itu pun melekat di hati kami, rombongan tur yang dipandu Sabriena International Travel bekerja sama dengan Kartika Tour and Travel, beberapa waktu lalu. Begitu mendarat di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang setelah perjalanan laut 3,5 jam dari Pulau Karimunjawa dengan Kapal Motor Cepat (KMC) Kartini I, seolah-olah ada yang tertinggal di belakang. Meskipun begitu, pada wajah kami tergurat rona gembira, selaiknya pias wajah orang yang puas setelah melakukan perjalanan menyenangkan. Dengan kesan seperti itu, seolah-olah kami lupa pada gelombang laut yang kebetulan cukup liar begitu kami meninggalkan dermaga ASDP di Karimunjawa dan membuat kami cukup mabuk terombang-ambing sesorean itu.

Dengar saja komentar beberapa anggota rombongan ketika pemandu tur mempertanyakan kesan perjalanan. “Wah, puas sekali. Asyik banget gitu loh! Rasanya ingin pergi ke sana lagi,” ujar seorang ibu muda dalam bahasa gaul remaja yang lagi tren.

Dua hari satu malam (Sabtu-Minggu) -paket yang dikemas biro travel tersebut- tentu saja bukan waktu yang leluasa untuk mengenali semua yang menjadi pesona gugus Pulau Karimunjawa. Apalagi, kami hanya sempat mengunjungi empat pulau: Karimunjawa, Kemujan, Menjangan Kecil, dan Menjangan Besar. Bagaimana dengan pulau-pulau lainnya? Pastilah tak kalah memesonanya. Meskipun begitu, beberapa pesona pulau yang selama ini memang diandalkan, bisa kami nikmati seperti terumbu karang di Pulau Menjangan Kecil, atau penangkaran ikan hiu di Pulau Menjangan Besar.

Boleh jadi, lebih dari setahun belakangan ini, kunjungan ke pulau-pulau di Karimunjawa terbilang lebih mudah. Aksesibilitas berupa kemudahan transportasi lebih bagus ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Dioperasikannya KMC Kartini I sejak Maret 2004 yang mempersingkat waktu tempuh perjalanan lautnya sangat mendukung hal tersebut. Lihat saja, dengan jarak sekitar 110 Km Semarang-Karimunjawa, waktu tempuh perjalanan lautnya hanya 3,5 jam. Bandingkan dengan kapal jenis feri yaitu Kapal Muria yang menempuh perjalanan dari Jepara ke Karimunjawa dengan jarak 90 Km bisa memakan waktu 6 jam. Belum lagi kalau transportasi menggunakan kapal motor milik nelayan pada umumnya. Sayangnya, waktu beroperasi kedua kapal itu belum setiap hari. KMC Kartini I hanya berangkat Sabtu pukul 09.00 dari Semarang, sementara dari Karimunjawa hanya Minggu pukul 14.00. Dari Jepara ke Karimunjawa, kapal tersebut beroperasi dua kali seminggu, yaitu Minggu pukul 09.00 dan Senin pukul 10.00, begitu juga dari Karimunjawa ke Jepara pada Sabtu pukul 14.00 dan Selasa 09.00. Untuk Kapal Muria hanya menempuh rute Jepara-Karimunjawa pulang pergi. Dari Jepara, kapal berangkat Rabu dan Sabtu pukul 9.00, sebaliknya dari Karimunjawa Senin dan Kamis pukul 9.00.

Meskipun beroperasi pada hari-hari tertentu, kunjungan ke gugusan pulau di seberang utara Pulau Jawa itu disinyalisasi terus mengalami peningkatan. Memang belum ada catatan resmi mengenai jumlah wisatawan yang datang, tapi kesaksian Darman (58), nelayan setempat yang sehari-hari mengoperasikan kapal angkutan, baik orang maupun barang, membenarkan hal itu.

“Sekitar setahun ini memang banyak yang datang ke sini, khususnya Sabtu dan Minggu. Barangkali karena telah ada kapal yang cepat,” ujarnya. Ia tentu saja ikut bergembira dengan kenyataan tersebut. Sebab, kapal yang dioperasikannya sering mendapat order mengangkut pengunjung ke pulau-pulau di sekitar Pulau Karimunjawa. Baginya, tentu saja itu lebih menyenangkan (dan barangkali lebih menguntungkan secara ekonomis) ketimbang mengangkut ikan ke Jepara yang waktu tempuh mencapai lima jam.

Sabtu siang itu begitu cerah saat kapal kami merapat ke dermaga ASDP Karimunjawa. Tak begitu banyak aktivitas di situ selain beberapa tukang becak yang menawarkan jasa. Kami masuk ke beberapa mobil untuk diangkut menuju sebuah homestay, tempat sebagian dari kami menginap. Selain itu, hidangan makan siang telah menunggu kami yang hampir semuanya telah lapar mengarungi 3,5 jam perjalanan laut.

Setelah makan siang dan rehat sejenak, tualang di pulau eksotis itu segera dimulai. Dengan mobil-mobil yang tadi, kami dibawa menyusuri jalanan yang agak naik turun. Ke Bandara Dewandaru kami menuju. Dalam bayangan sebagian besar dari kami yang belum pernah ke situ, pastilah itu sebuah lapangan terbang dengan segala aktivitasnya yang riuh. Begitu sampai, dari balik pagar kami cuma melihat sebuah pesawat terbang kecil jenis Cessna 172 M parkir di atas lapangan tak begitu besar. Jadi memang itu bukan sebuah bandara tempat beragam pesawat penumpang datang dan pergi. Sebab pesawat tersebut, bersama jenis serupa yang lebih besar (Cessna 402 B) merupakan fasilitas untuk antar jemput wisatawan yang memanfaatkan jasa biro travel Kura-kura Resort.

Tak banyak yang bisa kami lihat selain satu pesawat itu dan tiga pohon dewandaru yang tumbuh di sekitar situ. Tapi itu cukup buat kami untuk saling mengobrolkan segala hal mengenai kualitas, eksotisme, sekaligus daya ajaib yang cenderung dimistifikasi mengenai tanaman tersebut.

Ya, sekian lama memang sering beredar mengenai daya mistis kayu dewandaru berikut tabu-tabu yang menyertainya. Konon, itu tanaman yang tak boleh dibawa keluar dari gugusan pulau Karimunjawa, beserta kayu kalimasada dan setigi. Mitos yang berkembang memberikan ancaman bahwa siapa pun yang membawa salah satu batang dari tiga kayu, betapa pun hanya reranting kecil, kapal atau perahu yang membawanya niscaya mengalami marabahaya. Kayu-kayu itu konon kesayangan Syeh Nyamplungan (tokoh spritual yang makamnya di sebuah bukit acap dikunjungi wisatawan serta disebut-sebut pembuka tlatah Karimunjawa) sehingga disakralkan.

Boleh saja mitos itu pernah cukup menakutkan beberapa tahun silam. Sebab, pada kenyataannya, kini banyak perajin lokal yang menjadi kayu-kayunya sebagai barang suvenir seperti tongkat berukit atau tongkat komando. Tak jarang, untuk satu tongkat komando misalnya, dibuat dari paduan tiga kayu “sakral” itu yang sangat indah.

Bolehlah keyakinan akan mitos telah bergeser. Seorang penjual yang ditanya perihal kepercayaan tersebut hanya terkekeh dan berseloroh untuk seolah-olah menukas balik pertanyaan itu, “Masak zaman sekarang sampeyan masih percaya hal-hal seperti itu?” Ya, ya, boleh jadi telah ada pergeseran soal tabunya membawa kayu dari tiga pohon tersebut. Nyatanya, malah muncul semacam mitos baru mengenai daya dahsyat kayu-kayu itu.

“Kayu ini kalau dipukulkan ke seorang penjahat, bisa KO dia,” ujar seorang anggota rombongan kami sembari memamerkan tongkat berukir naga dari kayu kalimasada.

Baiklah, cerita perjalanan dilanjutkan. Dari bandara tersebut, rombongan kembali menyusuri jalanan sempit dengan kanan kiri rawa penuh mangrove. Beberapa rumah adat Bugis, rumah panggung berdinding papan menjadi pemandangan yang cukup eksotis. Di Karimunjawa, lebih-lebih di Kemujan, memang banyak tinggal orang Bugis yang telah beranak-pinak di situ. Kebudayaan komunitas orang Bugis yang dikenal sebagai pelaut andal di situ ikut pula mengayakan pesona Karimunjawa. Selain tentu saja beberapa etnis pelaut lain yang membaur menjadi orang Karimunjawa seperti Madura, Buton (Sumatera Selatan), dan Bajau (Sulawesi Utara).

Menjelang senja kami kembali ke homestay masing-masing untuk rehat. Acara bebas di malam hari, dimanfaatkan sebagian kecil dari kami untuk memancing. Laut Karimunjawa memang kondang sebagai surga pemancing. Beberapa kapal bermotor siap melayani mereka untuk memancing di tengah laut. Tentu saja untuk hobi itu, wisatawan harus keluar uang ekstra.

Ya, Karimunjawa memang memikat sebagai tempat kunjungan wisata bahari yang “asyik banget gitu loh”. Sekadar informasi, asal mula namanya -dan ini dipercayai sebagian besar orang di pulau tersebut- memiliki hubungan dengan Syeh Nyamplungan. Putra Sunan Muria itu disebut sebagai orang pertama di situ. Berdasarkan cerita tutur, ketika ditanya tentang keberadaan putranya, Sunan Muria menjawab bahwa sang anak telah berada di pulau yang kramun-kramun (kadang terlihat kadang tidak) saka pulau Jawa. Melalui proses metatesis bahasa, jadilah Karimunjawa.

Ketika secara iseng kami melemparkan asumsi kepada Ipong, seorang pemilik homestay, bahwa karimun adalah nama seekor binatang sejenis rusa dengan anggapan bahwa ada dua pulau dengan nama menjangan yang merupakan hewan serumpun, lelaki itu tak membenarkan juga tak menyalahkan. Dia lebih memercayai cerita tentang Syeh Nyamplungan itu. Tapi dia menegaskan, rusa atau menjangan masih bisa dijumpai di bukit-bukit dan hutan. Tak cuma itu, beberapa puluh tahun lalu, warga sekitar sering menjumpai menjangan yang bermigrasi dari pulau yang satu ke pulau lainnya. Dahsyatnya, mereka melakukannya dengan menyeberangi lautan sembari membawa rumput di tanduknya sebagai persediaan. Itu bukan kisah fiktif atau mitos. “Kakek saya, juga warga lain seusianya sering melihat perpindahan itu.”

Yang pasti, kisah mengenai rusa atau menjangan itu ikut mendukung kenyataan bahwa gugusan pulau Karimunjawa memang cerita. Belum lagi soal kehidupan bawah lautnya yang juga sangat kaya, lebih-lebih terumbu karangnya.(Saroni Asikin,Hernandhono-13)
Hiu-hiu Jinak di Menjangan Besar

Anda pasti sepakat bahwa hiu adalah predator laut yang ganas. Tapi apakah keliaran dan keganasan ikan tersebut tak bisa dijinakkan? Tentu saja bisa. 10 ekor hiu di penangkaran depan penginapan terapung milik Pak Cuming seolah-olah memberi pelajaran: tak ada makhluk ganas yang tak bisa dibuat jinak dan bisa bersanding dengan makhluk lainnya.

Ya, acara wisata Minggu pagi itu kami dibawa ke dua pulau yang dekat dengan pulau Karimunjawa, Menjangan Kecil dan Menjangan Besar. Dari dermaga rakyat (tempat bersauhnya kapal para nelayan lokal) yang letaknya tidak jauh dari pusat kota kecamatan, semestinya dua pulau itu bisa dijangkau masing-masing sekitar lima menit saja. Namun, kami harus memakan lebih banyak waktu karena kapal harus menghindari areal rumput laut yang dikembangkan di situ. Pada tempat rumput laut tumbuh subur, air laut berwarna hijau teal. Dipadu dengan air laut berwarna biru di kitarannya, membuat laut bagai pulasan penuh warna. Apalagi, matahari yang begitu cerah pagi itu memulaskan warna keperakan pada permukaan air.

Di pulau Menjangan Kecil, kapal kami bersauh di tepi pantai yang berpasir putih. Sebentar kemudian, sebuah kapal cepat dengan bagian dasar berkaca, mendatangi kami. Ia adalah kapal yang bakal membawa rombongan menikmati pesona terumbu karang di sekitar pulau tersebut. Karena hanya berkapasitas 12 penumpang, rombongan dibagi dalam beberapa tahap. Sembari menunggu, yang belum diangkut bermain-main di tepi pantai atau melakukan snorkeling. Teriakan riang mereka berbaur dengan alunan kecil ombak di pantai pulau yang tak begitu besar tersebut.

Sebentar kemudian, kami sudah sibuk mengagumi beragam jenis terumbu karang yang kami lihat dari kaca di dasar kapal. Semua anak kecil yang ikut dalam rombongan berteriak kegirangan. Kadangkala muncul pula seloroh kekanakan mereka mengomentari bentuk karang. Sekadar informasi, terumbu karang di Taman Nasional Laut Karimunjawa merupakan jenis terumbu karang pantai atau tepi (fringing reef), terumbuh penghalang (barrier reef), dan beberapa taka (patch reef). Kekayaan jenisnya mencapai lebih dari 50 genus, lebih dari 90 jenis karang keras, dan 242 ikan hias yang hidup di kitarannya. Jumlah ikan hias itu yang terbesar di dunia, sebab terbesar kedua ada di Etiopia sejumlah 112 jenis.

Setelah menikmati snorkeling dan terumbu karang, kami bergerak ke penangkaran hiu di Pulau Menjangan Besar. Tempat penangkaran di depan penginapan apung itu terbagi dalam dua kolam yang tak begitu besar. Sebenarnya bukan sebuah kolam benar, karena hanya air laut yang ditambak dengan karang-karang kecil. 10 ekor hiu hitam rata-rata sepanjang satu meter terlihat riang bersama sejenisnya begitu kami mengerebuti tepian kolamnya dengan perasaan gemas-gemas cemas sebab bagaimanapun kami mengira hiu-hiu itu seganas laiknya. Itu kontras karena pada kolam satunya, seekor kura-kura, ikan barakuda, dan ngangas seperti bermain-main sendiri. Kata Sumiyati, perempuan yang mengurus penginapan dan penangkaran itu, mereka memang tak bisa digabungkan.

Perempuan itu bercerita, penangkaran hiu dimulakan dengan tertangkapnya empat ekor hiu oleh pancing nelayan. Oleh nelayan, ikan liar yang “malang” itu dijual ke Pak Cuming dan ditangkar di situ. Pernah ada pula ada dua hiu putih dipiara di situ. Sayangnya, keduanya telah dijual ke Jakarta seharga Rp 3 juta. Kepada siapa? Sumiyati tak tahu.

Kami masih memandangi permainan hiu di kolam itu dengan perasaan gemas-gemas cemas ketika dengan nada berseloroh Sumiyati menantang kami untuk terjun. “Ndak apa-apa, kok. Ini sudah jinak. Sudah terbiasa dengan orang,” ujarnya sembari sebelah tangannya menepuk-nepuk air. Sebelah tangan lainnya memegang sepotong ikan sebelum mencelup-celupkannya ke dalam air. Dia ingin memperlihatkan tontonan bagaimana predator laut itu makan. Hiu-hiu itu sendiri makan seminggu tiga kali.

“Yang berani mandi, Rp 50 ribu,” selorohnya sambil terus mencelup-celupkan potongan ikan. “Hiu-hiu ini lucu kok. Kalau mau makan harus di-beda (digoda-Red) dulu.”

Kami tertawa tapi tetap belum berani mencelupkan tangan atau kaki ke air. Namun ketika hiu-hiu mulai mendekati tangan Sumiyati yang memegang ikan, beberapa di antara kami mulai berani mencelupkan tangan atau kaki. Anak-anak kecil pun mulai berteriak-teriak girang. Mereka terlihat tak lagi takut. Dari situ, kami bertolak untuk pulang ke homestay, mengepak barang dan bersiap-siap kembali ke Semarang. (Saroni Asikin, Hernandhono-13)

Sumber: SuaraMerdeka

KLIK DISINI

%d blogger menyukai ini: